PUISI RENUNGAN: Monolog Tengah Malam

PUISI RENUNGAN: Monolog Tengah Malam

Siapa yang pernah ikut acara pentas seni pas kemah? 

Siapa yang pernah tiba-tiba disuruh baca puisi atau bermonolog dengan tulisan yang temanya bisa membuat pendengar haru atau pun mewek?

Berdasarkan pengalaman pribadi, aku akan membagikan sebuah "tulisan sendiri" kalau kita dadakan diminta baca puisi atau bercerita melalui kata, dengan mengangkat tema terkait orang tua serta kerabat terkasih dijamin dengan pembacaan pelan dan irama yang syahdu tulisan ini akan membuat yang membaca dan mendengar jadi haru. Di akhir tulisan akan aku muat tips agar tulisan ini menjadi jauh lebih sedih. 

Catatan awal: Tulisan ini mungkin lebih relate untuk acara pentas seni anak kuliahan

____

Monolog Tengah Malam

Karya: Monita

Hari ini aku tidak berpuisi, aku ingin bermonolog untuk kita semua. Tentang hal-hal berharga dalam hidup yang sering kita perlakukan dengan buruk. 

Cobalah kita memejamkan mata, membuka mata hati kita untuk sejenak mengenang orang-orang yang berarti dalam hidup kita. 

Untuk kalian, sadari seandainya orang tua kita sekarang sudah tua, sudah tidak setangguh dulu, atau salah seorang ayah maupun ibu kita yang sudah tidak bersama kita lagi di dunia. Bayangkan dalam isi kepala kalian reka adegan dalam kehidupan kita, saat hari dimana kita pernah membentak orang tua kita, yang selepas marah ada rasa janggal dihati namun sampai sekarang kita belum minta maaf sama sekali. 

Orang tua ini kadang anehnya tidak banyak mengungkapkan keinginan nya, padahal sering ingin dibuatkan sesuatu, ingin dimasakkan makanan oleh kita, atau ingin dibelikan oleh-oleh kesukaannya, mereka tidak bilang saking mereka tidak nyaman merepotkan kita terutama mungkin beliau ingat pernah sekali saat kita diminta saat lelah-lelahnya bukannya mengabulkan justru membentak bahkan kadang mencela orang tua dibelakang. Coba ingat adegan itu, pasti pernah terjadi disuatu rumah paling hangat yang kalian tinggali bersama mereka. 

Pernah juga mungkin kita memarahi mama atau ayah kita sampai dia malu dihadapan orang banyak, dihadapan saudara-saudara kita, dikeramaian, mungkin dijalan, mungkin dipasar, karna ego kita merasa sedikit kecewa sama mereka. Lalu arogansi kita tanpa sadar memarahi habis-habisan didepan orang lain sampai mereka malu, sedih, kecewa, merasa takut kepada anaknya yang dulu sering dia gendong, anak yang dulu dikecup keningnya, tetapi ketika anak ini sudah mampu, sudah berakal, saat orang tuanya dalam keadaan lemah, kita bentak tanpa pernah peduli dan tidak pernah ingat bagaimana dia dulu diperlakukan oleh ayah dan ibunya dengan sebaik-baiknya. Ingat, adegan itu pasti pernah terjadi dalam kehidupan kita. 

Namun kalau kita merasa tidak pernah melakukan itu, mungkin kita adalah seorang pelupa, kita lupa pernah berada pada masa-masa kelam, emosi tidak stabil, pernah mengalami masa-masa sulit, aku kira kita pernah mengalami masa ketika kita benar-benar menyakiti perasaan mereka. 

Bodoh, kita ini mahluk paling tidak sabar kalau sudah dengan orang tua. 

Segampang itu kita buang semua jasa mereka, lalu kita mengatakan kalimat-kalimat yang seolah-olah kita tidak pernah mendapat kebaikan dari orang tua sama sekali, ayah kita diam ketika dimarahi oleh kita, dan dia tidak pernah mengatakan, "dulu kamu pernah seperti ini tapi aku sabar, dulu aku habis-habisan berkorban untuk kamu, aku korbankan semuanya, aku capek cari nafkah untuk kamu, ayah kita tidak pernah mengatakan itu dihadapan kita, dia tetap sabar menanggung semua ucapan-ucapan dan bentakan dari anaknya. Adapula saat ayah sesekali membantah tingkah kita, kita justru lebih geram dan merasa tak mau kalah dan bersalah padahal coba sekali saja menerima dan sadari kalau kita memang salah. 

Apalagi mama kita, apakah dia mengandung kita sembilan bulan hanya untuk menjadi seorang ibu yang dibentak? Dia mengandung kita sembilan bulan dalam kepayahan tidak bisa tidur, tidak bisa duduk, tidak bisa berdiri, kemana-mana berat, apakah untuk melahirkan kita seorang anak yang congkak, sombong dan kemudian membentak ibunya hanya kesalahan kecil yang dilakukan ibunya? ingat adegan itu pernah terjadi dalam kehidupan kita. Dewasa ini aku menyadari teman-temanku yang sudah menjadi ibu, mereka sekuat itu bertahan di usia muda merawat anak bayinya, apakah suatu hari nanti mereka akan menuai nasib yang sama seperti takdir seorang ibu yang menua? Atau temanku yang sudah menjadi ayah, tak tahu betapa ributnya kepalanya untuk mencari rupiah demi rupiah untuk keluarga, apa mungkin mereka akan mendapat oleh-oleh cacian di masa tua? 

Untuk orang tuaku di rumah, saat ini mungkin kalian sedang terlelap di bawah selimut hangat. Dari jauh aku hanya ingin bilang kalau aku menyesal menjadi anak yang buruk, menjadi anak yang tak tahu diuntung, lihat aku? aku belum menjadi sedewasa yang dibayangkan. Aku tak pernah kuasa untuk menjadi lebih hebat dari kalian, maaf kalau keegoisan dan emosional tak terbendung ini kadang harus kulampiaskan ke kalian. Aku tak lebih dari seorang anak kecil yang butuh disayangi dan haus dengan apresiasi dari kalian. 

Ayah, ayah sekarang capek mungkin ya? sudah terlalu banyak berkorban buat kami, ayah yang tidak pernah menyebut dirinya sayang padaku. Namun diam diam paling khawatir saat aku terluka, saat aku belum bisa jadi apa apa. Takut saat ada yang melukaiku, namun tak pernah bertanya apakah aku baik-baik saja? Gengsi yang kadang tak kumengerti namun akhirnya kusukai sebagai sikap paling romantis dari seorang orang tua untuk anaknya. 

Untukmu yang telah kehilangan ayah, ayah dari alam sana jangan lihat aku dulu. Sebelumnya ayah harus bangga sama mama yang sudah membesarkan aku yang susah diatur ini, kami harus merobek tanggal demi tanggal tanpa figur seorang pemimpin di rumah. Kadang-kadang kebingungan bagaimana aku nanti belajar menjadi seorang pemimpin tanpa sosok ayah, bagaimana rasanya mengurusi sekelompok rupiah untuk kami makan, untuk kami sekolah, untuk kami bertahan hidup sehari-hari. Rupanya kehidupan inilah yang akhirnya memimpinku untuk menjadikan seorang yang bertanggung jawab tanpa belajar darimu. Aku tak terlalu banyak mengingat sosokmu namun kutahu kau paling nomor satu mengabulkan apa yang kumau. Kau tak banyak bicara, kau juga sering marah bahkan sering keras kepala kalau sudah urusanku. Aku pikir kau tak pernah mau mendengar sehingga membentukku menjadi seorang yang tak mau mengalah, rupanya kau hanya ingin aku melihat begitu kerasnya dewasa ini sampai-sampai kau tarik kasar tanganku agar tak terperosok dari lubang yang salah. Maaf sekali lagi aku tak mengerti sikap romantismu tapi aku terlambat menyukainya. 

Mama, mama sekarang lagi apa? Masih sibuk ya bertanya-tanya terus aku sedang apa sekarang, sudah makan atau belum. Maaf ma, aku sering marah dan kasar. Aku yang suka risih kalau terlalu dicampuri urusan, aku mengerti dimata mama aku ini masih seperti anak kecil yang tak tahu apa-apa. Percayalah ma, aku selalu berusaha untuk menjadi anak berguna, suatu hari nanti janjiku bisa membahagiakan mama lebih dari apapun. Tapi mama juga janji agar tak banyak kecewa kalau aku mungkin tak seperti anak tetangga yang membanggakan orang-orang. Namun, aku juga berusaha agar tak jadi beban bagi bayang-bayang hari tuamu. Terima kasih ma, sudah menyanyangiku sampai seterusnya. 

Untuk kalian yang separuh hatinya sudah dalam damai. Makammu selalu terlihat cantik namun tempat pulang paling menyedihkan bagiku. Ma, aku sekarang sudah dewasa seandainya mama lihat aku yang sudah berjuang banyak sampai sejauh ini, ditengah malam kadang suka nangis dalam sepi kenapa mama tidak ada saat aku sedang proses bertumbuh, saat aku sedang kesal-kesalnya dengan dunia ini? Kadang sisi jahatku bilang kalau Tuhan ini tidak adil saat orang lain bisa memeluk mamanya kapanpun, saat orang lain bisa dibanggakan mamanya dihadapan orang-orang, saat aku berdiri atas pencapaian terbesarku tak ada orang paling pertama yang bisa kupamerkan. 

Ma, aku ini iri. 

Saat mereka mampu meminta maaf sekali lagi pada orang tuanya, sedangkan aku? aku mau menangis sampai kapan pun tak ada arti, dada aku udah terlalu sesak sejak kehilangan mama dan gak akan sembuh oleh apapun sebab aku akan terus merasa kehilangan mama dan aku berbohong telah menjadi dewasa karena rumah paling nyaman bagiku adalah tempat mama menyambutku dan menerima seburuk apapun aku. Maaf kalau aku tak sempat banyak memberi bahagia, semoga mama tahu kalau aku telah bertahan sampai ini karena mama.

Kupanjatkan banyak doa untuk orang tuaku yang masih bernafas agar kalian tetap bisa mengawani aku sampai tua, agar aku selalu sempat membuat bahagia seperti banyak kebaikan yang sudah banyak diusahakan untukku. Dan untuk yang sudah kehilangan salah seorang maupun dua sosok tersebut semoga pemilik alam semesta menempatkan mereka pada tempat terbaik serta doaku terus bisa meringankan dosa-dosa kalian disisi-Nya. 

Orang tua mungkin banyak menggantungkan harapannya ke kita, bukan tanpa arti namun mereka ingin kita menempuh kehidupan selanjutnya dengan kaki kita sendiri. Kecewa saat dituntut banyak hal oleh orang lain karena mereka tahu kita mampu untuk jadi lebih dari sekedar berarti.

Orang tua adalah hal-hal berharga yang sering kita perlakukan buruk, mereka tidak takut miskin memberi nafkah pada saat membesarkan anaknya, tapi banyak anak yang sering takut kekurangan saat menanggung orang tuanya di masa tua. Banyak yang tidak pernah sabar mengajari hal-hal modern bagi orang tuanya. Bodoh, aku pikir hal-hal berharga ini sudah banyak kita perlakukan dengan buruk. Lihat diri kita saat ini, sehebat apapun, sukses setinggi langit, tapi tanpa doa restu orang tua yang membesarkan kita, maka tidak akan ada ketenangan, keberkahan & kebahagiaan dalam hidup. Dan bersyukurlah saat kita masih mampu melihat dan menyentuh mereka, minta maaflah selagi mampu sebab kau tak akan tahu bagaimana kesepian dan terlukanya kawan yang tak seberuntung hidupmu itu. 

Satu lagi hal paling berharga dalam hidup yang sering kita remehkan, sering kita anggap buruk. Yaitu diri kita sendiri. Pada diriku sendiri, sosok yang selalu nangis tanpa suara, yang sering bilang gak apa-apa padahal banyak sekali yang memenuhi pikiran. Sering mukul kepala dan memaki diri saat banyak hal yang tidak sesuai dengan keinginan, sering menyendiri tapi katanya takut sepi. Kalau diluar bertingkah seolah-olah semua terkendali, padahal kenyataanya aku sama saja seperti manusia lain yang punya beragam perasa dalam diri, hanya kebetulan saja topeng milikku jauh lebih terlatih. 

Aku tak suka dibanding-bandingkan oleh orang lain, namun aku sendiri terus-terusan membandingkan hidupku dengan orang lain. Maaf kalau aku sudah banyak benci pada tubuh ini, benci pada takdirku sendiri, aku yang membangun semuanya aku pula yang paling banyak mencaci maki semuanya. 

Diriku yang paling kuat, kamu hebat sudah banyak melalui hal sulit sendirian. Saat tugas-tugas yang menumpuk kau selesaikan dengan baik, saat kau berusaha menjadi paling tangguh saat tak ingin membuat orang tuamu khawatir. Akhirnya air matamu tumpah ruah saat mereka tahu kau sebenarnya juga rapuh. 

Tidak papa, menangis itu tidak buruk, mengeluh itu tidak buruk, kecewa itu tidak buruk asal sebentar saja kemudian dibalas dengan bertarung sendirian lagi. 

Di suatu malam yang sunyi sering iseng melihat postingan orang lain yang kupikir lebih beruntung dari aku, membuatku bertanya-tanya dalam kepalaku, apa aku bisa menjadi dia? Apa hidupku akan begini-begini saja? Kekhawatiran tak berdasar ini membuatku sering menutup mata pada kenyataan milik orang lain, banyak sisi sisi buruk terungkap pada akhirnya dan aku tahu bahwa hidupku tak terlalu buruk, semua orang rupanya memang paling ahli menampilkan sisi terbaik walau sebenarnya mereka tak baik. Cara manusia bertahan adalah memang seharusnya tak haus belas kasih, mereka saja ahli menutupi kekurangannya sedangkan aku masih sibuk memperhitungkan diri. semua orang punya kesusahan pada dirinya masing-masing dan hebat membuat rahasia untuk dirinya sendiri. 

Malam ini aku berjanji pada diriku sendiri agar aku tak terlalu banyak menyalahkan diri ini, tidak apa kalau aku banyak gagal, tidak apa kalau semua sudah banyak keluar dari ekspektasi masa kecil, tidak apa. Walau sejujurnya aku sedih dan bersalah tapi hidup terus berjalan, kita tak pernah tahu kejutan seperti apa dari semesta saat kita bertahan dengan mensyukuri yang ada. Terdengar naif namun harus kulakukan akhirnya. 

Aku bangga masih punya rekan-rekan baik di sisiku, tak banyak tapi cukup untuk membuatku terus berarti. Setidaknya alasan topengku terpakai adalah karena mereka tetap disisiku. 

Terima kasih Tuhan, kau masih memberiku kesempatan berjuang untuk memelihara titipan kehidupan darimu. Serta masih mengahadiahiku orang-orang yang selalu menyayangiku.

Selesai sesi mendengarkan ini, semoga kita bisa banyak berfikir ulang atas setiap tindakan kita. Tidak ada gunanya menyesal dikemudian hari, tidak ada gunanya terus-menerus marah atas takdir ini. Kita semua adalah petarung pada jalan pilihan kita masing-masing. 

___

Tips kecil: Pembacaan tulisan ini bisa sambil diiringi lagu dari Yura Yunita - Tutur Batin, agar suasananya jauh lebih mendukung dan kehangatan api unggun bisa membuat performa kita makin menyala. Sekian semoga bisa bermanfaat bagi semua dan pentas seni kalian jadi memori paling berkesan.

Catatan akhir: Tulisan boleh dimodifikasi asalkan tidak untuk kebutuhan komersil


Sumber gambar: Api Unggun